Kamis, 19 November 2009

SEJARAH KRISTENISASI DI SULAWESI SELATAN

A. Latar Belakang Kristenisasi Secara Umum di Sulawesi Selatan

1. Agama Sebelum Kristenisasi

Sebelum datangnya agama Kristen di Sulawesi Selatan masih berkembang Agama Patturioloang (Agama Leluhur). Dimana agama ini masih bercorak suku, dimana agama ini berbeda dengan agama lainnya tergantung siapa suku yang menganutnya, meskipun berbeda namun pada dasarnya agama leluhur ini mempunyai kesamaan. Seperti yang dikatakan oleh den (1980:13) yakni:

Suku itu mempunyai ceritera-ceritera atau mitos, yang menyatakan asal usul suku, yaitu silsilahnya yang melalui nenek moyang naik sampai kedewa-dewa. Mitos ini diberitakan juga tentang aturan hidup, antar adat yang diberikan oleh dewa-dewa dan nenek moyang. Adat ini dipelihara untuk anggota-anggota suku, tetapi tidak diluar lingkungan irtu. Akhirnya semua anggota suku turut dalam ibadah terhadap dewa-dewa dan nenek moyang tersebut. Orang lain tidak mungkin ikut, karena ia mempunyai nenek moyang lain.

Dalam ranah Sulawesi Selatan ada satu mitologi yang dijadikan sebagai mitologi bersama empat suku besar (Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja). Menurut mitologi ini yang disebut Mitolologi La Galigo, yang menjadi manusia pertama di Sulawesi Selatan adalah Batara Guru yang diturunkan Datu Patotoe (Dewa dari langit/Dewa yang menentukan Takdir Kehidupan) untuk dijadikan penguasa dibumi, tepatnya di tana Lu’ (Luwu). Batara guru kemudian melahirkan Batara Lattu, batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading. Sawerigading inilah yang menjadi cikal bakal semua manusia atau penguasa yang ada pada ranah Sulawesi Selatan (Sangkala Dg. Mile, Wawancara 25 Juni 2007).

Dalam hal ini agama leluhur yang tumbuh di Sulawesi Selatan berciri Animisme (penyembahan nenek moyang) dan Dinamisme (Penyembahan benda-benda yang dianggap keramat). Agama ini adalah agama asli. Agama ini muncul seiring dengan tidak yerkuaknya baik oleh pikiran maupun perbuatan manusia mengenai misteri sakit dan mati-nya seseorang , disini dengan akalnya pula manusia mencoba merekonstruksi bahwa ada “sesuatu” yang amat luar biasa yang tidak nampak (gaib) yang menyebabkan misteri ini, sehingga dengan akal pula manusia mencoba “meraba” bahwa sesuatu ini adalah mahluk gaib yang menguasai seluruh bumi dan isinya - yang kemudian di sebut Datu Patotoe -. Hal inilah yang kemudian melahirkan berbagai agama/kepercayaan mulai dari agama yang sangat tradisional sampai modern.

2. Pandangan Orang Eropa Terhadap Keadaan Di Sulawesi Selatan

Orang-orang Eropa pertama yang tiba di Sulawesi Selatan kebetulan beragama Kristen, sehingga agama populer pertama yang tiba di tempat ini adalah Agama tersebut. Orang-orang Kristen Eropa memandang bahwa masyarakat di sana masih tidak beradab bahkan biadab (bar-barian). Pada tahun 1525 tiga orang pendeta yakni P. P. Antonio des Reys, Bernardino de Marvao dan Cosme de Annuciacao disertai Bruder (pembantu Pastor) mendarat di Makassar, ditempat itulah mereka menjumpai penduduk yang hidup dalam kondisi tidak beraturan dengan menunjukkan sikap yang kurang bersahabat, sehingga mereka tidak dapat melakukan pembaptisan. Karenanya mereka meninggalkan Makassar dan pergi ke Maluku (Poelinggomang 2004:76).

Pada permulaan kedatangan orang Eropa di Sulawesi Selatan, para misi dari kalangan mereka nampaknya ragu-ragu dalam menyebarkan pengkabaran Injil di tempat ini, sebab menurut mereka orang-orang pribumi di tempat ini adalah ornag-orang yang berbahaya dan sangat sulit untuk dikristenkan. Hal ini menandakan bahwa orang-orang Sulawesi Selatan sudah sedemikian “taat” kepada keyakinan lrluhur mereka.

B. Keadaan Kristen Di Sulawesi Selatan

1. Pribumi Pertama Penganut Kristen

Agama Kristen masuk ke Makassar pada tahun 1544, agama ini masuk melalui Maluku. Simon vaz pada 1534 mulai mengkristenkan suku Mamuya di Maluku dengan membaptis kepala suku Mamuya yang bergelar Kokano (Den 1980:39-40). Dari wilayah maluku Kristen mulai memasuki Sulawesi Selatan. Adalah saudagar Portugis Antonio de Payva berhasil membaptis raja Suppa dengan nama baptisannya Don Juan to Binanga (1545) dan raja Alitta Don Juan Manuel (Poelinggomang 2004:78).

Kedua bangsawan inilah yang pertama tercatat sebagai penganut Kristen pribumi pertama di Sulawesi Selatan. Kedua penguasa ini kemudian memerintahkan rakyatnya dan para penguasa lainnya untuk memeluk agama Kristen. Kemudian pada tahun 1545 Pastor Viegas menuju ke kerajaan Tallo (Kerajaan yang terletak di sebelah selatan jazirah Sulawesi Selatan). Pada waktu itu kerajaan tallo dipimpin oleh I Mappatakang Kantana Daeng Padulung tumenanga ri Kayaoang (1545-1577), raja ini kemudian berhasil dibaptis oleh Viegas (ibid – 79).

Nampaknya tahun-tahun awal kristenisasi di Sulawesi Selatan memperlihatkan hasil yang nyata dan menjanjikan karena banyak raja-raja di Sulawesi Selatan yang sudah berhasil dibaptis dan menganut Kristen, dengan demikian tidak sulit mengkristenkan rakyatnya bila rajanya sudah berhasil di Kristenkan.

2. Kegagalan Kristenisasi Di Sulawesi Selatan

Setelah bangsa Portugis berhasil mengkristenkan beberapa raja, maka mereka terlena dan terjebak oleh nafsu keduniaan. Hal ini dapat dilihat oleh perbuatan seorang bangsawan Portugis, karena tergoda oleh kecantikan putri bangsawan Suppa, bangsawan Portugis ini kemudian putri suppa ini, hal inilah yang menjadi pemicu kebencian orang-orang Suppa terhadap orang-orang Eropa, khususnya Portugis. Hubungan ini mulai diperbaiki 14 tahun setelah kejadian. Namun iklim politik sudah jauh berubah sebab penguasa Suppa, Alitta, Siang, Bacukiki dan Tallo yang pernah dibaptis telah mundur dari kepemimpinan kerajaan dan diganti oleh penguasa baru yang begitu paham dengan Kristen (ibid – 79).

Hal lain yang menjadi faktor gagalnya kristenisasi di Sulawesi Selatan adalah munculnya kerajaan besar baru, kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa yang mempunyai hegemoni yang luas ini kedaerah-daerah sekitarnya. Menyebabkan Kerajaan Kristen yang pernah berkuasa tunduk pada kerajaan baru ini dan tunduk sebagai kerajaan palilik (bawahan). Pada tahun 1605 kerajaan Gowa menerima agama sallang (Islam) sebagai agama resmi kerajaan. Sallan (Islam) dilembagakan didalam kerajaan Gowa berdampingan dengan adat leluhurnya (Limpo 1995:37).

Faktor yang tak kalah pentingnya yang mengakibatkan gagalnya kristenisasi adalah kedatangan bangsa Belanda. Bangsa Belanda adalah saingan bangsa Portugis baik dari segi politik maupun dari segi agama. Bangsa Belanda beragama Kristen Protestan sedangkan bangsa Portugis beragama Kristen Katolik. Pada masa itu antara Kristen Katolik dan Kristen Protestan masih terjadi pertentangan yang tajam. Portugis datang bersama dengan gerakan misi Katoliknya sedangkan Belanda lebih mengutamakan tujuan-tujuan komersilnya (Sewang 2005:60).

3. Wilayah Kristen Di Sulawesi Selatan

Meskipun kristenisasi sempat gagal dan vakum selama puluhan bahkan ratusan tahun sejak kedatangan unutk pertama kalinya. Namun usaha kristenisasi mulai dimunculkan kembali di Sulawesi Selatan. Kali ini yang menjadi penyebar Kristen di daerah ini adalah bangsa Belanda yang semula hanya mementingkan tujuan sekulernya.

Di negeri Belanda pada tahun 1901 setelah partai Liberal dikalahkan oleh koalisi kelompok-kelompok kanan agama, yang menetapkan kembali prinsip-prinsip Kristen dalam pemerintah. Kebijakan netral terhadap agama tiba-tiba diganti dengan kebijakan yang mendukung penyebarak agama Kristen, dengan cara memberikan subsidi kepada sekolah dan rumah sakit Zendeling (Najamuddin 2002:121-122).

Perubahan iklim dari sekuler ke nuansa agamais pada sistem pemerintahan pusat negeri Belanda pasti diterapkan pula kepada pemerintahan negeri jajahan. Di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan sudah ada usaha kristenisasi dengan mengirimkan para penyebar Kristen atau Zendeling ke daerah ini. Namun apa yang terjadi dilapangan teryata di Sulawesi Selatan sebagian besar penduduknya sudah menganut agama sallang (Islam), yang sangat sulit untuk dpengaruhi untuk meninggalkan Islam dan masuk ke agama Kristen.

Makassar-Bugis telah menerima ajaran agama Islam sebagai keyakinan hidup, karena alasan-alasan itulah baik misi dari agama Katolik maupun zendeling dari agama Protestan mulai mencari daerah yang belum digarap dan dipengaruhi agama Islam dan masih menganut agama leluhur/suku. Daerah tersebut adalah Tana Toraja dan Mamasa, wilayah yang memang masih didiami oleh penduduk yang belum beragama Islam dan masih menganut Agama leluhur Aluk Tudolo (Gonggong 2004:105).

Tana Toraja dan Mamasa Akhirnya dipilih untuk dijadikan pusat Kristen dan pusat pengkabaran Injil (Kristenisasi) ke seluruh jazirah Sulawesi Selatan. Seperti apa yang dikatakan oleh Andriani (1976:12) bahwa:

Daerah Tana Toraja adalah daerah yang paling baik sebagai pusat daerah pangkalan Injil karena jauh dari pengaruh Islam, ini disebabkan karena letak Tana Toraja diatas gunung, sedangkan kekuasaan Islam menduduki darah pantai.

Pada tanggal 16 Maret 1911 di Tana Toraja telah dibaptis sekitar 20 orang pribumi oleh pendeta J. Kelling dari Bonthain (Pakendek 1996:76). Pada tahun inilah titik awal Kristenisasi modern di Sulawesi selatan yang berpusat di Tana Toraja dan Mamasa.

Usaha kristenisasi di Sulawesi Selatan nampaknya sudah terencana dengan rapi untuk memasukkan pengaruh salib di Tana Toraja kemudian keseluruh jazirah Sulawesi Selatan, sesuai dengan peryataan dibawah ini:

Pemerintah Hindia Belanda menentukan daerah tersebut sebagai medan kerja setelah berunding dengan beberapa tokoh terkemuka dari dunia pengkabaran Injil Belanda. Dr. J.W Gunieng dan Dr. N. Andrianus ingin menempati daerah-daerah yang berbatasan dengan Poso agar dengan demikian tercifta suatu blok Kristen di Sulawesi Selatan (Den 1994:77).

Sejak saat itu wilayah Tana Toraja dan Mamasa telah menjadi pusat pengkabaran Injil sampai sekarang. Dari sinilah Kristen disebarkan kewilayah lain di Sulawesi Selatan, diataranya ke Selayar, Soppeng, Maros, Pangkajene, Makassar dan Gowa. Pada masing-masing wilayah ini terdapat beberapa komunitas Kristen meskipun tergolong minoritas diantara agama mayoritas Islam.

0 komentar:

 
About Me | Author Contact | Template Basic On Friendster | Powered By Blogspot | Copyright 2008